Selasa, 22 Juni 2010

Bibit-Bibit Perselingkuhan

Penelitian menunjukkan, umumnya suami berselingkuh bukan semata-mata karena bosan pada pasangan. Mau tahu apa saja hal-hal potensial yang menyebabkan pasangan berselingkuh?

1. SALING CUEK
Konsep “menerima apa adanya” adalah mitos. Perkawinan masih terbilang sehat bila masing-masing pasangan rela dikritik. Jangan punya pikiran untuk membiarkan pasangan bebas melakukan apa saja kesenangannya. Misalnya, sang istri seharian ”kelinteran” di ruang duduk dan nonton teve dengan jubah kamar mandi. Yang bijaksana, tanyakan mengapa dia bersikap seperti itu. Jangan-jangan dia sedang depresi, kurang enak badan, atau kelewat malas. Kalau Anda hanya diam saja, sang istri bisa merasa tidak dipedulikan lagi.
2. SALING ”MEMAKAN” MINAT DAN HOBI
Perkawinan tidak harus “menyatukan” semua minat, hobi, dan kawan. Kalau suami dan istri melakukan hampir segala hal bersama-sama, berarti ada yang salah. Artinya, kalau suami suka main golf, biar ia melakukan itu. Jangan “memakan” hobinya dan mengubahnya harus menjadi senang main tenis hanya karena Anda senang main tenis. Ingat, “memberangus” ruang pribadinya akan memantik kebencian pada pasangan! Artinya, terlalu masuk dalam kehidupan pasangan dan ingin tahu kegiatannya sampai ke detail-detailnya, akan membuat pasangan merasa terintimidasi.
3. MELEBURKAN DIRI DEMI SUAMI
Ada cerita klasik tentang orang bernama Bernard, ahli bedah jantung, dan istrinya, Stacy. Stacy mengabdikan total hidupnya untuk Bernard. Ia mendorong suaminya masuk sekolah kedokteran. Dia menjadi ibu rumah tangga, masak, dan mengurus anak-anak.
Ia juga tak pernah lupa melengkapi minuman suaminya dengan es batu berbentuk hati. Namun, toh, Bernard akhirnya kabur juga dengan perempuan lain, seorang fotografer nyentrik yang usianya dua tahun lebih tua darinya. Mereka bertemu saat rebutan taksi. Mengapa Bernard justru takluk pada fotografer itu? Jawabannya, karena ia lebih menarik. Pengabdian total terasa membosankan, kata ahli, karena sama saja seperti menyewa pembantu dan tukang masak.
Berbeda sekali nilai antara memotivasi suami dan melayani suami. Kegagalan meningkatkan kemampuan diri, membuat Stacy kehilangan Bernard. “Jadi, penting bagi Anda untuk tetap memiliki kehidupan sendiri. Maka, sebaiknya, seorang istri memiliki posisi tawar. Tunjukkan kemampuan mandiri dan bisa mencari uang sendiri. Dengan begitu, pasangan Anda akan bersikap hati-hati dengan Anda.”
4. PUSAT PERHATIAN HANYA PADA ANAK
Seorang ibu seringkali tergoda untuk menganggap anak adalah segalanya. Jangan! Mengurus anak, mengantarnya latihan sepak bola, menari, dan antar-jemput pesta, menjadi ancaman bagi keintiman suami-istri. Meski punya balita sekali pun, pasangan harus punya waktu untuk berduaan. Berjanjilah Anda hanya akan membicarkan soal anak setelah berbagi cerita urusan orang dewasa. Jangan bicarakan tentang anak-anak di tempat tidur.
5. TAK PUNYA TOPIK MENARIK
Pasangan akan merasa bosan bila “kata sambutan” kita padanya berisi keluhan-keluhan tentang masalah rumah tangga, kegiatan “ecek-ecek”, dan ditutup dengan pertanyaan basa-basi, “Bagaimana di kantor tadi?” Kalau percakapan Anda dengan pasangan seperti ini, berarti Anda kehilangan cara berkomunikasi yang baik antara suami-istri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar